nih guys ,gue kasih info tentang stadium general pada Senin lalu ,menarik dan banyak antusiasme dari dosen dan mahasiswa mahasiswa . baca yeee :)
Pemateri I (Afia Rosdiana)
Orang
awan banyak yang menilai bahwa TBM itu bukan perpustakaan. Apakah benar
demikian? Bu Afi mengatakan bahwa beliau bukan seorang pustakawan, karena
berdasarkan buku Pak Blasius seorang pustakawan bukan hanya menurut SK Menpan
namun berdasarkan dari jiwanya sendiri ,dukungan dari jiwa yang kuat sehingga
menumbuhkan jiwa kepustakawanan.
Bu
Afi mengisahkan sewaktu kecil setiap Sabtu beliau sering mengunjungi
perpustakaan bersama keluarganya dan disana tidak dipaksa untuk membaca buku.
Sewaktu beliau sekolah di Chines school, gurunya mengajak beliau ke
perpustakaan dan diajak untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan bukan hanya
saja untuk membaca buku. Tahun 2006 Bu Afi pindah ke Indonesia dan hal yang
pertama kali dicari adalah perpustakaan, dan ternyata perpustakaan hanya ada
dipojokkan SD dekat rumah beliau.
Pada
tahun 2009 beliau ditugasi di perpustakaan kota, sangat disayangkan banyak buku
bahan bacaan di perustakaan lebih kepada teori tentang perpustakaan; bagaiman
cara klasifikasi, cara katalogisasi, dan sebagainya. Hal-hal teknis seperti itu
yang beliau dapatkan di internet; bahan-bahan tentang bagaimana perkembangan
perpustakaan malah banyak artikel yang belum ada di perpustakaan. Dengan
hadirnya “Perpustakaan untuk Rakyat” ini, suatu hal yang menggembirakan bagi
kita semua yang berkecipung dalam bidang perpustakaan karena buku ini
memberikan nuansa yang lain tentang apa itu perpustakaan yang tidak hanya
terkait dengan klasifikasi, katalogisasi dan cara menata perpustakaan. Beliau
senang sekali dengan buku tersebut apalagi buku tersebut dibuat seperti novel,
ada dialog antara anak dengan bapak dan di dalamnya dibagi menjadi tiga bagian,
dan satu sama lain saling berkaitan. Bu Afi sependapat dengan pengantar pada
buku tersebut bahwa kita tidak bisa membaca langsung dari belakang.
Bab
pertama berbicara tentang pengembangan masyarakat. Sedikit masukan dari beliau
perpustakaan disini yang ditulis adalah perpustakaan umum ada di wilayah kota
Yogyakarta, namun Taman Bacaan disini adalah Taman Bacaan dan Cakruk Pintar itu
adalah Taman Bacaan Masyarakat yang berada di wilayah Sleman. Ada yang berbeda
dengan kebijakan dan pendampingan yang dilakukan antara kota Yogyakarta dengan
Sleman. Tahun 2009, seolah-olah orang yang ada di perpustakaan tidak boleh
menyebut dengan TBM, karena kalau TBM itu miliknya Depdiknas dan didirikan dari
Kementrian Pendidikan Nasional. Sedangkan Perpusnas mengepalai langsung
Perpustakaan Masyarakat. TBM ini dapat disebut sebagai taman bacaan masyarakat
karena bantuan dari dinas lebih banyak dibanding dari perpusnas.
Perpustakaan
masyarakat atau TBM mempunyai ruh yang sama yaitu mengembangkan minat baca.
Dari 240 TBM, hampir 30% sudah “koma” atau tidak mati dan tidak hidup.
Dialog
kedua, Pak Blasius dan Ratih membicarakan perpustakaan dan kepustakawanan. Bu
Afi mengaitkan dengan anekdot Gus Dur tentang banteng. Anekdot tersebut
mempunyai pemahaman bahwa banteng yang sangat galak kalah dengan kegalakan Bill
Clinton, terkait dengan perkataan Bill Clinton “kalau kamu ngeyel tidak mau
minggir, saya titipin di perpustakaan”. Sebegitu menyeramkankah perpustakaan
sampai banteng saja takut?. Hal tersebut terkait dengan orang-orang yang
“dibuang” di perpustakaan. Jadi, semua itu tergantung dengan persepsi kita
masing-masing.
Banyak
hal yang dapat kita pelajari dari buku tersebut, bukan hanya belajar ilmu
perpustakaan tidak hanya belajar mengolah perpustakaan tetapi lebih kepada
memahami kebutuhan masyarakat. Kadang-kadang sebagian orang yang bukan
pustakawan agak susah untuk mengubah paradigma bahwa pustakawan itu hanya
mengurusi buku dan sangat susah sekali mengatakan perpustakaan itu harus
dinamis.
PEMATERI II (Ratih
Rahmawati)
Pada
kesempatan ini, mbak Ratih mengatakan bahwa yang tertulis itu bukan kontennya
tapi bagaimana berkolaborasi antara generasi yang masih banyak galaunya dengan
bapak Blasius yang sudah mempunyai jam terbang tinggi. Mengenai artikel yang
ditulis oleh mbak Ratih mengenai perpustakaan yang ada di Jogja dan Sleman,
beliau mengatakan bahwa itu hanya urusan kebijakan. Mbak Ratih berharap
mahasiswa lebih aktif untuk bertanya.
PEMATERI III (Pak
Blasius Sudarsono)
Pada
awalnya pustakawan jarang menulis, hal tersebut dialami beliau saat mengajar di
Universitas Indonesia tahun 1981. Sejak itu masa penantian beliau dimulai.
Setiap tahun tidak pernah ada yang merespon ajakan beliau untuk menulis. Tahun
2012 dengan mantap Ratih mau untuk berkolaborasi dengan beliau. Pak Blasius
mengatakan, bagaimana menyesuaikan pola pikir dua orang memenag tidak mudah.
Bukan masalah instansinya tetapi lebih kepada persepsi dua generasi yang
mempunyai selisih umur.
Dialog
pertama, menceritakan perpustakaan dengan restoran. finally library is librarian, yang di
belakang perpustakaan adalah pustakawan. Pustakawan mempunyai jiwa ruh
kepustakawanan.
Jika
dikaitkan dengan perpustakaan, ada dua tujuan penting pada pembukaaan UUD 1945
terkait dengan dialog buku tersebut, yaitu:
-
Kesejahteraan umum
-
Kecerdasan kehidupan bangsa
TBM
atau perpustakaan bukan tujuan akhir namun hanya perantara. Sayangnya,
pembukaan UUD 1945 tidak secepatnya diinternalisasikan kepada bangsa Indonesia.
Pustakawan yang memiliki
kepustakawanan, pilar kepustakawanan adalah menururt beliau ada 4 yaitu :
1. Pada
dasarnya kepustakawanan adalah panggilan hidup.
2. Kepustakawanan
adalah spirit of life.
3. Kepustakawanan
adalah karya pelayanan
4. Kepustakawanan
dilakukan dengan profesional
Kepustakawanan
lebih dekat dengan kemampuan, lebih baik yang mau dan tidak mampu daripada yang
mamu tapi tidak mau. Hal-hal tersebut yang menjadi motivator dan inspirator
untuk pak Blasius.
5 sila kepustakawanan :
1. Pustakawanan
harus mampu berfikir kritis
2. Membaca
3. Menulis
4. Kemampuan
enterpreneur. Pustakawan harus mengembangakn kemampuan enterpreneur.
Perpustakaan adalah akumulasi dari recorder culture atau knowledge. Menjawab
segala permasalahan yang dipaparkan dibuku tersebut, pak Blasius berpendapat
bahwa pendekatan keilmuan harus diperbaiki. Kemampuan ini dapat berupa
penulisan buku yang akan menghasilkan uang secara ekonomi akan memperbaiki
financialnya mereka.
5. Etika.
Etika perlu diajarkan. Example: internet banyak untuk akses pornografi. Lalu
bagaimana dengan tugas putakawan itu sendiri?
Interaksi
kemampuan dan kemauan, diibaratkan oleh beliau sebagai BRR, yaitu Bright,
Right, Rije. Pustakawan itu harus cerdas. Menurut 3 pendekatan:
1. Soft
site
2. Kemampuan
3. Pustakawan
ideal
Pemahaman tentang sistem yang
harus diperbaiki:
1. Pendekatan
sistem
2. Fungsi
ruang dan waktu
3. Bilangan
tiga
Buku
Perpustakaan untuk rakyat tersebut mengadaptasi buku Sri Sultan HB IX yang
berjudul Tahta untuk Rakyat.